- Mengenali Dan Mencegah Calon Kriminil



Kenakalan Remaja. Source Google free image


Seorang kriminil selalu menjadikan problem sosial dan kerugian bagi lingkungan juga masyarakat sekitarnya, tetapi juga membawa dampak jelek terhadap dirinya dan keluarganya sendiri. Dalam sistim masyarakat yang berlaku, selalu terdapat sistim penghukuman atas perbuatan kriminil, berupa rumah penjara, ataupun bentuk eksekusi fisik yang lain menyerupai kerja paksa hingga eksekusi mati gantung, ditembak dan dipancung.
Namun semua ini tidak pernah menciptakan jera dan bersurutnya perbuatan kriminil.

Untuk menjawab tantangan ini, maka timbul pemikiran apakah kita sanggup mencegah seseorang menjadi pelaku kejahatan ? 
Sampai timbul pertanyaan, apakah kita bisa membedakan seorang calon kriminil semenjak mereka masih berusia dini, sehingga dengan santunan intervensi psikologi, maka kita bisa mengkoreksi tingkah laris destruktif semenjak mereka masih berusia sangat belia dan sewaktu menanjak cukup umur maka kecenderungan berbuat kriminil dan mengganggu tatanan masyarakat mapan bisa dihilangkan, maka mereka "terselamatkan" dari nasib jelek dan tingkah laris negatif, dan tumbuh kembang menjadi anggota masyarakat yang penuh tanggung jawab dan mematuhi hukum.

Berikut ini yaitu sekelumit penelitian ilmiah yang dilakukan oleh sekelompok hebat jiwa anak, di Canada, mereka menilai dan mengelompokkan anak anak hingga remaja dari tingkah laris mereka selama disekolah, dan membedakan antara anak "calon kriminil" dengan anak yang akan tumbuh kembang normal, dan menawarkan therapy kejiwaan untuk mengkoreksi tingkah laris negatif anak "calon kriminil" sehingga menjadi konkret dan terselamatkan dari masa depan jelek yang siap menanti mereka.


Calon Kriminil Bisa Dikenali Sejak Mereka Berusia 6 Tahun



Inilah judul goresan pena yang membahas hasil penlitian kejiwaan menurut tingkah laris anak anak semenjak berusia 6 tahun hingga remaja, menurut hasil analisa ini para hebat jiwa ini bisa menciptakan kesimpulan wacana tingkah laris dan watak anak anak ini dimasa dewasanya.   

Masalah tingkah laris dan gangguan kejiwaan juga perilaku ketidak perdulian terhadap sesama yang ditemukan pada anak anak semenjak berusia 6 tahun, yaitu tanda ramalan yang jitu terhadap kejadian pelanggaran aturan dengan tindak kekerasan ataupun pelanggaran aturan tanpa tindak kekerasan yang akan terjadi pada dikala anak ini memasuki masa cukup umur muda, demikian temuan oleh penelitain ilmiah gres baru ini. 

Para peneliti dari the Université de Montréal di Canada menemukan tingkah laris negatif semenjak berusia 6 tahun, menyerupai contohnya berkelahi, ketidak patuhan terhadap peraturan, kurangnya rasa empati, akan meramalkan tindakan kriminil yang akan mereka lakukan dikala berusia  24 tahun nanti. 

"Umumnya tindakan kriminil dengan atau tanpa kekerasan yang dilakukan oleh sekelompok kecil laki-laki dan wanita, yang memiliki problem tingkah laris yang terjadi sewaktu masa kanak kanak dan tetap terbawa hingga sepanjang hidup mereka" ungkap Dr. Sheilagh Hodgins, PhD, kepada Medscape Medical News.

"Jika problem tingkah laris mereka bisa diketahui dan bisa dikoreksi atau dihilangkan pada dikala itu, maka akan menawarkan kemungkinan kepada anak anak ini untuk mengubah jalan hidupnya, mereka akan tumbuh kembang dan hidup sehat dan berbahagia, serta menawarkan sumbangan yang konkret untuk masyarakat lingkungan mereka"    

Hasil penelitian ini dipublikasikan di The Canadian Journal of Psychiatry, edisi Maret 2013.   



Diperlukan tindakan intervensi se-awal mungkin 

Tujuan  penelitian ini yaitu untuk memahami lebih jauh bagaimana mencegah kejahatan sehingga bisa mengurangi biaya yang ditimbulkan bagi kemanusiaan dan ekonomi negara akhir tindakan kejahatan, katanya 

Para peneliti menyidik catatan penilaian guru terhadap problem tingkah laris anak asuhnya yang berusia 6 tahun, menyerupai berkelahi, ketidak patuhan terhadap aturan, mangkir sekolah, merusak barang milik umum, mencuri, berbohong, memeras teman, menyalahi orang lain, tidak ada rasa tenggang rasa terhadap orang lain.

Sebanyak 1593 anak laki-laki dan 1423 anak perempuan telah diikut sertakan dalam penelitian ini, mereka yaitu murid sekolah umum taman kanak kanak tahun anutan 1986 - 1987, berlokasi dikota Quebec.  

Kelompok anak lelaki dan perempuan yang sama ini akan dievaluasi lagi pada dikala mereka telah mencapai usia 10 tahun, dan pada dikala berusia 12 tahun untuk mengevaluasi tingkah laris agresivitas mereka. 

Para peneliti menganalisa catatan kejahatan remaja dan orang cukup umur dan menemukan korelasi konkret antara riwayat catatan tingkah laris dari guru pada dikala anak berusia 6 tahun hingga 10 tahun yaitu bekerjasama dengan kelakuan kriminil antara usia 12 hingga usia 24 tahun. 

Terutama mereka menemukan bahwa anak lelaki berusia 6 tahun yang dinilai gurunya memiliki problem serius dalam tingkah laris dan gangguan kejiwaan juga perilaku ketidak perdulian terhadap sesama, akan memiliki kemungkinan 4 kali lebih besar terlibat dalam perbuatan kriminil dengan kekeraan dan 5  kali besar kemunginan akan terlibat perbuatan kriminil tanpa kekerasan, jikalau dibandingkan dengan anak yang tingkat gangguan tingkah laris lebih rendah

Temuan yang sama pada anak perempuan berusia 6 tahun dengan tingkat gangguan tingkah laku, gangguan kejiwaan dan perilaku ketidak perdulian terhadaap sesama, memiliki kemungkinan 5 kali lebih besar untuk terlibat perbuatan kriminil tanpa kekerasan pada dikala berusia 24 tahun.  

Anak lelaki dengan gangguan kejiwaan dan perilaku ketidak perdulian terhadap sesama yang lebih besar tapi tanpa disertai gangguan tingkah laku, akan memiliki resiko lebih besar terlibat perbuatan kejahatan yang disertai dengan atau tanpa kekerasan, sedangkan pada anak perempuan dengan tingkat gangguan yang sama akan memiliki resiko lebih besar terlibat perbuatan kejahatan yang tidak disertai kekerasan.  

"Untuk murid menyerupai ini", tambah Dr. Hodgins "memerlukan intervensi untuk mengurangi gangguan tingkah laris seawal mungkin, dengan demikian dibutuhkan akan terjadi perbaikan korelasi dengan anggota keluarga, sesama sahabat dan terhadap guru, akan memiliki prestasi akademik yang lebih baik dan sanggup menyebarkan kemampuan diri yang lebih baik"  

Dokter anak dengan mengobservasi perkembangan anak dan berbicara dengan anak tersebut dan orang tuanya, bisa mengidentifikasi anak yang menunjukkan gangguan tingkah laris dan perilaku hidup ini.  

Ketika problem ini mulai timbul, maka keluarga anak tersebut bisa dialihkan ke pelayan kejiwaan atau tubuh lain yang menyediakan akomodasi training bagi orang tua, juga tindakan intervensi yang lain dengan tujuan mengurangi problem tingkah laris tersebut. 

 
Catatan:

Adalah ideal jikalau kita bisa mengetahui dari semenjak usia dini dari kehidupan seorang anak, adanya gangguan tingkah laris dan perilaku hidup yang nanti akan menimbulkan anak tersebut menjadi calon atau bahkan pelaku tindakan kejahatan; apakah itu kejahatan dengan atau tanpa disertai kekerasan.

Namun yang menjadi problem disini, ini yaitu suatu hal yang sangat penuh resiko dengan mencap seorang anak yang gres berusia 6 tahun itu yaitu seorang calon kriminil. Karena lebel ini akan mensugesti kehidupan keluarga, kehidupan sosial, pendidikan dan masa depan anak tersebut.

Lagi pula seberapa tepatnya atau akurasi penilaian seorang guru terhadap gangguan tingkah laris seorang anak yang gres berusia 6 tahun ini, kita bukannya mencurigai tingkat kompetensi guru tersebut.

Setelah kita berhasil mengidentifikasi anak "calon kriminil" tersebut, maka harus ada tubuh atau institusi yang bisa mengatasi gangguan jiwa tersebut, menawarkan therapi intervensi untuk mengkoreksi dan menghilangkan gangguan, sehingga anak ini akan menjadi orang yang bertanggung jawab sosial, memiliki sifat konkret dan bisa hidup berdampingan bersama orang lain dalam masyarakat yang bertata tertib dan berhukum.  
Pertanyaannya yaitu apakah kita memiliki institusi yang demikian ?






Kenakalan Remaja. Source Google free image





Can J Psychiatry. 2013;58:143-150









Source: https://wikimamfaat.com













































 







 

 


















Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel