10 Kebiasaan Kecil Pemicu Diabetes Melitus



Dalam hidup ini berlaku aturan "tabungan". Apa yang kita lakukan menjadi tabungan
di masa mendatang. Apa yang kita tabung bertahap akan terasa
hasilnya bertahun-tahun kemudian. Begitu pun dengan penyakit. Mulai dari kebiasaan segelas
minuman favorit sampai suka menonton TV sampai larut. Siapa nyana jika itu bisa
meningkatkan risiko diabetes? Diabetes melitus atau DM menjadi bahaya serius
bagi masyarakat. Menurut Badan Kesehatan Dunia atau WHO, angka insiden diabetes
di Indonesia menempati urutan keempat tertinggi di dunia, yaitu 8,4 juta jiwa,
pada tahun 2000.
10 kebiasaan kecil yang bisa memicu terjadinya diabetes mellitus pada seseorang ialah :

1. Minum Teh manis
Penjelasannya sederhana. Tingginya asupan gula mengakibatkan kadar gula darah
melonjak tinggi. Belum risiko kelebihan kalori. Segelas teh bagus kira-kira
mengandung 250-300 kalori (tergantung kepekatan). Kebutuhan kalori perempuan dewasa
rata-rata ialah 1.900 kalori per hari (tergantung aktivitas). Dari teh manis
saja kita sudah sanggup 1.000-1.200 kalori. Belum ditambah tiga kali makan nasi
beserta lauk pauk. Patut diduga jika setiap hari kita kelebihan kalori.
Ujungnya: obesitas dan diabetes.
Pengganti: Air putih, teh tanpa gula, atau batasi konsumsi gula tidak lebih dari
dua sendok teh sehari.

2. Gorengan
Karena bentuknya kecil, satu gorengan tidak cukup buat kita. Padahal gorengan
adalah salah satu faktor risiko tinggi pemicu penyakit degeneratif, seperti
kardiovaskular, diabetes melitus, dan stroke. Penyebab utama penyakit
kardiovaskular (PKV) ialah adanya penyumbatan pembuluh darah koroner, dengan
salah satu faktor risiko utamanya ialah dislipidemia. Dislipidemia adalah
kelainan metabolisme lipid yang ditandai dengan peningkatan kadar kolesterol
total, LDL (kolesterol jahat) dan trigliserida, serta penurunan kadar HDL
(kolesterol baik) dalam darah. Meningkatnya proporsi dislipidemia di masyarakat
disebabkan kebiasaan mengonsumsi aneka macam masakan rendah serat dan tinggi lemak,
termasuk gorengan.
Pengganti: Kacang Jepang, atau pie buah.

3. Suka ngemil
Kita mengira dengan membatasi makan siang atau malam bisa menghindarkan diri
dari obesitas dan diabetes. Karena belum kenyang, perut diisi dengan sepotong
atau dua potong masakan ringan menyerupai biskuit dan keripik kentang. Padahal, biskuit,
keripik kentang, dan kue-kue bagus lainnya mengandung hidrat arang tinggi tanpa
kandungan serta pangan yang memadai. Semua masakan itu digolongkan dalam makanan
dengan glikemik indeks tinggi. Sementara itu, gula dan tepung yang terkandung di
dalamnya mempunyai peranan dalam menaikkan kadar gula dalam darah.
Pengganti: Buah potong segar.

4. Kurang tidur
Jika kualitas tidur tidak didapat, metabolisme jadi terganggu. Hasil riset para
ahli dari University of Chicagomengungkapkan, kurang tidur selama 3 hari
mengakibatkan kemampuan tubuh memproses glukosa menurun drastis. Artinya, risiko
diabetes meningkat. Kurang tidur juga sanggup merangsang homogen hormon dalam
darah yang memicu nafsu makan. Didorong rasa lapar, penderita gangguan tidur
terpicu menyantap masakan berkalori tinggi yang menciptakan kadar gula darah naik.
Solusi: Tidur tidak kurang dari 6 jam sehari, atau sebaiknya 8 jam sehari.

5. Malas beraktivitas fisik
Badan Kesehatan Dunia (WHO) mengatakan, kasus diabetes di
negara-negara Asia akan naik sampai 90 persen dalam 20 tahun ke depan. "Dalam 10
tahun belakangan, jumlah penderita diabetes di Hanoi,Vietnam, berlipat ganda.
Sebabnya? Di kota ini, masyarakatnya lebih menentukan naik motor dibanding
bersepeda," kata Dr Gauden Galea, Penasihat WHO untuk Penyakit Tidak Menular di
Kawasan Pasifik Barat.
Kesimpulannya, mereka yang sedikit acara fisik mempunyai risiko obesitas
lebih tinggi dibanding mereka yang rajin bersepeda, jalan kaki, atau aktivitas
lainnya.
Solusi: Bersepeda ke kantor.

6. Sering stres
Stres sama menyerupai banjir, harus dialirkan biar tidak terjadi banjir besar. Saat
stres datang, tubuh akan meningkatkan produksi hormon epinephrine dan kortisol
supaya gula darah naik dan ada cadangan energi untuk beraktivitas. Tubuh kita
memang dirancang sedemikian rupa untuk maksud yang baik. Namun, jika gula darah
terus dipicu tinggi lantaran stres berkepanjangan tanpa jalan keluar, sama saja
dengan bunuh diri pelan-pelan.
Solusi: Bicaralah pada orang yang dianggap bermasalah, atau ceritakan pada
sahabat terdekat.

7. Kecanduan rokok
Sebuah penelitian di Amerika yang melibatkan 4.572 relawan laki-laki dan wanita
menemukan bahwa risiko perokok aktif terhadap diabetes naik sebesar 22 persen.
Disebutkan pula bahwa naiknya risiko tidak cuma disebabkan oleh rokok, tetapi
kombinasi aneka macam gaya hidup tidak sehat, menyerupai contoh makan dan olahraga.
Pengganti: Permen bebas gula. Cara yang lebih progresif ialah mengikuti
hipnoterapi. Pilihlah hebat hipnoterapi yang sudah berpengalaman dan
bersertifikat resmi.

8. Menggunakan pil kontrasepsi
Kebanyakan pil kontrasepsi terbuat dari kombinasi hormon estrogen dan progestin,
atau progestin saja. Pil kombinasi sering mengakibatkan perubahan kadar gula
darah. Menurut dr Dyah Purnamasari S, Sp PD, dari Divisi Metabolik Endokrinologi
RSCM, kerja hormon pil kontrasepsi berlawanan dengan kerja insulin. Karena kerja
insulin dilawan, pankreas dipaksa bekerja lebih keras untuk memproduksi insulin.
Jika terlalu usang dibiarkan, pankreas menjadi letih dan tidak berfungsi dengan
baik.
Solusi: Batasi waktu penggunaan pil-pil hormonal, jangan lebih dari 5 tahun.

9. Takut kena sinar matahari
Menurut jurnal Diabetes Care, perempuan dengan asupan tinggi vitamin D dan kalsium
berisiko paling rendah terkena diabetes tipe 2. Selain dari makanan, sumber
vitamin D terbaik ada di sinar matahari. Dua puluh menit paparan sinar matahari
pagi sudah mencukupi kebutuhan vitamin D selama tiga hari. Beberapa penelitian
terbaru, di antaranya yang diterbitkan oleh American Journal of Epidemiology,
menyebutkan bahwa vitamin D juga membantu keteraturan metabolisme tubuh,
termasuk gula darah.
Solusi: Gunakan krim tabir surya sebelum "berjemur" di bawah sinar matahari pagi
selama 10-15 menit.

10. Keranjingan soda
Dari penelitian yang dilakukan oleh The Nurses' Health Study II terhadap 51.603
wanita usia 22-44 tahun, ditemukan bahwa peningkatan konsumsi minuman bersoda
membuat berat tubuh dan risiko diabetes melambung tinggi. Para peneliti
mengatakan, kenaikan risiko itu terjadi lantaran kandungan suplemen yang ada dalam
minuman bersoda. Selain itu, asupan kalori cair tidak menciptakan kita kenyang
sehingga terdorong untuk minum lebih banyak.
Pengganti: Jus cuek tanpa gula.

Resp obat tradisional untuk mengatasi kencing bagus (diabetes mellitus bisa di baca di obat tradisional alami kencing manis.


Terima kasih untuk  : www.kompas.com dan www.obat-diabetes.tk








 Apa yang kita tabung bertahap akan terasa 10 Kebiasaan Kecil Pemicu Diabetes Melitus Balas

 Apa yang kita tabung bertahap akan terasa 10 Kebiasaan Kecil Pemicu Diabetes Melitus Teruskan





Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel